Senin, 25 Februari 2013

Gempa Bumi



Gempa Bumi
Gempa bumi atau seisme adalah getaran di muka bumi yang terjadi karena pergerakan-pergerakan tertentu di perut bumi,baik pergerakan secara vulkanis, maupun tektonis. Pusat gempa dapat terjadi di dasar laut maupun di daratan. Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan gelombang air laut dalam volume besar yang dikenal sebagai gelombang tsunami. Ilmu yang mempelajari tentang gempa bumi disebut seismologi. Gempa bumi dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan sebab terjadinya, yaitu gempa tektonik, vulkanik, dan gempa longsoran atau gempa terban.
1. Gempa Tektonik
Gempa tektonik terjadi karena adanya peristiwa patahan pada kulit bumi atau dislokasi baik karena patahan horizontal maupun vertikal. Gempa jenis ini biasanya menyebabkan getaran yang sangat besar, sehingga kerusakan yang ditimbulkannya pun sangat besar. Sebagian besar gempa yang terjadi di permukaan bumi merupakan gempa tektonik.
2. Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik terjadi karena adanya pergerakan magma di perut bumi atau karena pembentukan gunung api. Getaran disebabkan karena merambatnya ledakan pada pusat-pusaterupsi magma. Gempa jenis ini biasanya hanya dirasakan di sekitar tempat terjadinya erupsi magma saja. Kejadian gempa akibat proses vulkanisme tidak lebih dari 8 persen dari total seluruh gempa yang terjadi di muka bumi.
3. Gempa Longsoran atau Terban
Gempa longsoran terjadi karena adanya rongga-rongga bawahtanah yang longsor. Getaran yang disebabkan gempa jenis ini biasanya hanya dirasakan di sekitar tempat terjadinya longsor saja dan tidak terlalu dahsyat. Jumlah gempa jenis ini tidak lebih
dari 2 persen dari total seluruh gempa yang terjadi di muka bumi. Berdasarkan kedalaman atau letak hiposentrumnya (pusat  gempa di dalam bumi), gempa bumi dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.
1. Gempa dangkal, yaitu gempa yang letak hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan bumi.
2. Gempa menengah atau intermedier, yaitu gempa yang letak hiposentrumnya antara 100–300 km di bawah permukaan bumi.
3. Gempa dalam, yaitu gempa yang letak hiposentrumnya lebih dari 300 km Pada waktu terjadi gempa bumi getaran gempa yang berasal dari hiposentrum merambat ke atas sampai permukaan bumi yang disebut episentrum atau pusat gempa di permukaan bumi.
Berikut ini istilah-istilah yang terkait dalam gempa bumi.
1. Hiposentrum, yaitu pusat gempa di dalam bumi.
2. Episentrum, yaitu pusat gempa di permukaan bumi.
3. Makroseisma, yaitu getaran gempa yang kuat dan terasa oleh
umum.
4. Mikroseisma, yaitu getaran gempa yang halus dan hanya
tercatat oleh seismograf.
5. Pleistoseista, yaitu daerah gempa yang paling parah
mengalami kerusakan.
6. Isoseista, yaitu garis pada peta yang menghubungkan tempattempat
yang sama kuat getarannya.
7. Homoseista, yaitu garis pada peta yang menghubungkan
tempat-tempat dengan catatan waktu getarannya sama.
8. Seismograf, yaitu alat untuk mengukur getaran gempa.
9. Seismogram, yaitu data yang tercatat pada waktu getaran
gempa terjadi. Sampai saat ini, manusia tidak dapat memperkirakan kapan gempa akan terjadi. Manusia hanya dapat mengukur kekuatan gempa. Getaran yang ditimbulkan oleh gempa dapat diukur menggunakan seismograf dengan satuan kekuatan getaran yang
dinamakan skala Richter. Setelah diukur dengan seismograf, data getaran biasanya dicatat pada seismogram. Berdasarkan data yang tercatat pada data seismogram itu, kita dapat menentukan awal dan lama terjadinya gempa, serta memperkirakan lokasi
pusat gempa.


Gempa Bumi
Gempa bumi atau seisme adalah getaran di muka bumi yang terjadi karena pergerakan-pergerakan tertentu di perut bumi,baik pergerakan secara vulkanis, maupun tektonis. Pusat gempa dapat terjadi di dasar laut maupun di daratan. Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan gelombang air laut dalam volume besar yang dikenal sebagai gelombang tsunami. Ilmu yang mempelajari tentang gempa bumi disebut seismologi. Gempa bumi dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan sebab terjadinya, yaitu gempa tektonik, vulkanik, dan gempa longsoran atau gempa terban.
1. Gempa Tektonik
Gempa tektonik terjadi karena adanya peristiwa patahan pada kulit bumi atau dislokasi baik karena patahan horizontal maupun vertikal. Gempa jenis ini biasanya menyebabkan getaran yang sangat besar, sehingga kerusakan yang ditimbulkannya pun sangat besar. Sebagian besar gempa yang terjadi di permukaan bumi merupakan gempa tektonik.
2. Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik terjadi karena adanya pergerakan magma di perut bumi atau karena pembentukan gunung api. Getaran disebabkan karena merambatnya ledakan pada pusat-pusaterupsi magma. Gempa jenis ini biasanya hanya dirasakan di sekitar tempat terjadinya erupsi magma saja. Kejadian gempa akibat proses vulkanisme tidak lebih dari 8 persen dari total seluruh gempa yang terjadi di muka bumi.
3. Gempa Longsoran atau Terban
Gempa longsoran terjadi karena adanya rongga-rongga bawahtanah yang longsor. Getaran yang disebabkan gempa jenis ini biasanya hanya dirasakan di sekitar tempat terjadinya longsor saja dan tidak terlalu dahsyat. Jumlah gempa jenis ini tidak lebih
dari 2 persen dari total seluruh gempa yang terjadi di muka bumi. Berdasarkan kedalaman atau letak hiposentrumnya (pusat  gempa di dalam bumi), gempa bumi dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.
1. Gempa dangkal, yaitu gempa yang letak hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan bumi.
2. Gempa menengah atau intermedier, yaitu gempa yang letak hiposentrumnya antara 100–300 km di bawah permukaan bumi.
3. Gempa dalam, yaitu gempa yang letak hiposentrumnya lebih dari 300 km Pada waktu terjadi gempa bumi getaran gempa yang berasal dari hiposentrum merambat ke atas sampai permukaan bumi yang disebut episentrum atau pusat gempa di permukaan bumi.
Berikut ini istilah-istilah yang terkait dalam gempa bumi.
1. Hiposentrum, yaitu pusat gempa di dalam bumi.
2. Episentrum, yaitu pusat gempa di permukaan bumi.
3. Makroseisma, yaitu getaran gempa yang kuat dan terasa oleh
umum.
4. Mikroseisma, yaitu getaran gempa yang halus dan hanya
tercatat oleh seismograf.
5. Pleistoseista, yaitu daerah gempa yang paling parah
mengalami kerusakan.
6. Isoseista, yaitu garis pada peta yang menghubungkan tempattempat
yang sama kuat getarannya.
7. Homoseista, yaitu garis pada peta yang menghubungkan
tempat-tempat dengan catatan waktu getarannya sama.
8. Seismograf, yaitu alat untuk mengukur getaran gempa.
9. Seismogram, yaitu data yang tercatat pada waktu getaran
gempa terjadi. Sampai saat ini, manusia tidak dapat memperkirakan kapan gempa akan terjadi. Manusia hanya dapat mengukur kekuatan gempa. Getaran yang ditimbulkan oleh gempa dapat diukur menggunakan seismograf dengan satuan kekuatan getaran yang
dinamakan skala Richter. Setelah diukur dengan seismograf, data getaran biasanya dicatat pada seismogram. Berdasarkan data yang tercatat pada data seismogram itu, kita dapat menentukan awal dan lama terjadinya gempa, serta memperkirakan lokasi
pusat gempa.
sumber buku bse ips kelas 7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar